Kakek Ini Divonis 3 Bulan Penjara Karena Tebang Pohon Jati


Kakek Ini Divonis 3 Bulan Penjara Karena Tebang Pohon Jati

Majelis hakim Pengadilan Negeri Watansoppeng mengadili seorang kakek berusia 75 tahun di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, Natu Bun Takka karena menebang pohon jati yang ia tanam sendiri. 

Kakek yang divonis 3 bulan penjara ini tidak menyadari jika tanaman jati yang iia tanaman dikalim oleh Pemerintah sebagai kawasan hutan lindung.

“Majelis hakim Pengadilan Negeri Watansoppeng yang mengadili perkara nomor 84/Pid/2020/PN. Watansoppeng menyatakan para terdakwa bersalah 

dan memenuhi unsur pembuktian pada pasal 82 UU P3H dan menjatuhkan vonis 3 bulan,” kata Wadir LBH Makassar, Edy Kurniawan saat dimintai konfirmasi, Kamis (18/2/2020).

Kakek Natu ini berasal dari Desa Ale Sewo, Kelurahan Bila, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Sulsel menebang pohon jati yang ia tanam di kebunnya sendiri yang berjarak kurang lebih 100 meter dari rumahnya. Namun, kebun tersebut dikalin sebagai kawasan hutan lindung.

Kasus ini bermula saat penyidik Polres Watansoppeng memanggil Kakek Natu sebagai saksi atas dugaan tindakan pidana penebangan pohon 

dalam kawasan hutan tanpa memiliki izin dari pejabat berwenang pada tahun 2020.  Kemudian, kakek tu menenebang pohon jati untuk keperluan rumahnya.

“Natu menebang pohon jati untuk keperluan rumah. Dia tidak mengetahui bahwa lokasi kebun miliknya diklaim masuk ke kawasan hutan lindung,” terangnya.

Natu dan keluarga mengaku sudah mengelola kebun tersebut secara turun menurun dari kakek dan orang tuanya. 

Oleh karena itu, keluarag Natu pun menggantungkan kebutuhan hidupnya dengan mengelola kebun tersebut. Setiap tahun, Natu ktif membayar PBB hingga 2019.

“Upaya kriminalisasi terhadap Natu adalah bentuk pelanggaran terhadap HAM. 

Padahal sangat jelas petani yang sudah turun temurun yang tinggal dalam kawasan hutan yang mengelola kebun untuk kebutuhan sandang, pangan, papan tidak boleh dipidana,” tegasnya.

LihatTutupKomentar